Ringkas Kata

Saat Dewasa, Pertemanan Jadi Lebih Sunyi Tapi Lebih Tulus

Saat dewasa, pertemanan cenderung lebih jarang ketemu dan komunikasinya lebih singkat. Tapi masih cocok, tetap nyambung dan saling dukung tanpa banyak drama.

Huraira Asisi

3 menit baca

Saat dewasa, pertemanan memang terasa berubah. Bukan karena kita jadi kurang peduli, tapi karena hidup tiba-tiba penuh dengan hal yang harus dibereskan. Ada kerjaan, keluarga, pasangan, kesehatan, tagihan, dan segala jenis tanggung jawab yang dulu rasanya jauh sekali. Jadwal makin sempit, energi gampang habis, dan waktu luang jadi sesuatu yang harus “dipesan” dulu, bukan tinggal ambil.

Di titik itu, pertemanan perlahan jadi lebih sunyi. Bukan sunyi yang sedih, tapi sunyi yang realistis. Chat gak selalu dibalas cepat, rencana ketemu sering geser, dan obrolan panjang kadang kalah sama kebutuhan tidur. Teman yang dulu tiap hari ada kabar, sekarang bisa cuma muncul sesekali. Anehnya, kamu mulai paham: diamnya bukan berarti hilang, kadang cuma berarti sama-sama sedang bertahan.

Yang menarik, justru karena makin jarang, pertemanan yang tersisa terasa lebih tulus. Karena ketika orang dewasa meluangkan waktu, itu biasanya bukan karena gabut. Itu karena dia beneran niat. Karena di sela hidup yang padat, dia masih milih untuk nanya kabarmu, masih inget hal kecil tentang kamu, masih mau dengerin tanpa buru-buru ngasih solusi. Dan di usia ketika semua orang sibuk jadi “kuat”, punya teman yang bisa bikin kamu merasa aman untuk jujur itu seperti menemukan kursi empuk di ruangan yang penuh kebisingan.

Pertemanan dewasa juga jarang dramatis. Lebih sering bentuknya sederhana: ketemu sebentar tapi pulangnya ringan. Ngobrol gak harus panjang, tapi terasa cukup. Kadang cuma kirim satu kalimat yang tepat di waktu yang tepat, dan itu bisa jadi penyelamat. Karena yang kamu butuhkan bukan keramaian, tapi kehadiran yang benar-benar hadir.

Tentu, ada juga pertemanan yang pelan-pelan menjauh. Bukan karena ada masalah besar, tapi karena arah hidup gak lagi sejajar. Dulu nyambung karena satu lingkungan, satu rutinitas, satu fase. Lalu fase itu selesai. Dan meski ada rasa kehilangan, lama-lama kamu belajar bahwa gak semua hubungan harus dipaksakan supaya tetap sama seperti dulu. Ada pertemanan yang memang tugasnya menemani satu bab, lalu berhenti di sana. Itu bukan kegagalan, itu bagian dari bertumbuh.

Makanya, saat dewasa kamu jadi lebih menghargai pertemanan yang tidak menuntut. Yang gak bikin kamu merasa bersalah karena telat bales. Yang gak menghitung seberapa sering kamu hadir, tapi paham bahwa kamu tetap peduli. Pertemanan yang sehat gak menambah beban, justru memberi ruang. Dan ketika akhirnya kalian ketemu lagi, rasanya seperti pulang sebentar ke versi diri yang lebih ringan.

Mungkin itulah kenapa pertemanan dewasa terdengar lebih sunyi. Karena tidak lagi dipenuhi kebisingan untuk membuktikan apa-apa. Tapi justru di sunyi itu, ketulusan kelihatan jelas. Siapa yang tinggal bukan karena ramai-ramai, melainkan karena benar-benar sayang. Dan di tengah hidup yang terus bergerak, punya satu dua orang yang tetap ada dengan cara yang tenang, itu sudah lebih dari cukup.

DITULIS OLEH

Huraira Asisi

Digerakkan oleh rasa ingin tahu yang tak ada habisnya, saya adalah seorang penulis yang mendedikasikan diri untuk merangkai kata menjadi narasi yang hidup dan bermakna.

Tulisan populer

Lihat semua
Eko Budiawan
·

Rumah Pendidikan: Masih Tempat Bertumbuh atau Sekadar Ruang Mengejar Angka

Rumah Pendidikan: Masih Tempat Bertumbuh atau Sekadar Ruang Mengejar Angka
Wilfi Wulandari
·

Pasar Miliaran Rupiah di Balik Mangkuk Kecil: Siapa Mengontrol Kualitas Makanan Kucing

Pasar Miliaran Rupiah di Balik Mangkuk Kecil: Siapa Mengontrol Kualitas Makanan Kucing
Eko Budiawan
·

Terhubung Secara Global, Terasing Secara Sosial

Terhubung Secara Global, Terasing Secara Sosial
Wilfi Wulandari
·

Ketika Algoritma Mengalahkan Adat

Ketika Algoritma Mengalahkan Adat
Eko Budiawan
·

Generasi Layar Sentuh: Cerdas Digital, Rapuh Mental?

Generasi Layar Sentuh: Cerdas Digital, Rapuh Mental?
Eko Budiawan
·

Burung Merak : Keindahan Bulu, Perilaku, dan Peran Ekologis dalam Keanekaragaman Hayati

Burung Merak : Keindahan Bulu, Perilaku, dan Peran Ekologis dalam Keanekaragaman Hayati