Ringkas Kata

Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata

Solidaritas yang bermula dari ruang digital perlahan menjelma menjadi pertemuan fisik, tatap muka, sentuhan tangan, dan peluh yang nyata.

Wilfi Wulandari

3 menit baca
Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata

Foto : CNN Indonesia

Suatu sore, layar ponsel memantulkan cahaya kebiruan di wajah-wajah yang menunduk. Di antara guliran berita dan video singkat, terselip satu unggahan tentang seorang ibu yang rumahnya hanyut diterjang banjir. Ada foto dinding kayu yang roboh, ada tatapan kosong anak kecil di sudut gambar. Pada bagian bawah, tertera tombol donasi.

Dulu, mungkin cukup sampai di sana. Seseorang mengetuk layar, mentransfer sejumlah uang, lalu kembali pada rutinitasnya. Rasa lega hadir sesaat, seolah empati telah tunai dibayarkan.

Namun belakangan, cerita tak selalu berhenti di tombol “kirim”.

Beberapa hari setelah unggahan itu viral, sejumlah orang yang semula hanya berdonasi mulai berdatangan ke lokasi. Ada yang membawa paket sembako, ada yang mengangkat puing-puing kayu, ada yang sekadar duduk mendengarkan kisah sang ibu. Solidaritas yang bermula dari ruang digital perlahan menjelma menjadi pertemuan fisik, tatap muka, sentuhan tangan, dan peluh yang nyata.

Fenomena itu tampak jelas ketika banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatera beberapa waktu lalu. Ajakan donasi yang disuarakan oleh kreator konten seperti Ferry Irwandi dan komika Praz Teguh menyebar cepat di media sosial. Dalam hitungan jam, dana terkumpul dalam jumlah besar.

Tetapi yang menarik bukan hanya angka di layar, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Bantuan benar-benar disalurkan, relawan turun langsung, dokumentasi distribusi dibagikan secara terbuka. Donasi digital menjelma menjadi logistik, obat-obatan, makanan hangat, dan tenaga yang membantu membersihkan lumpur dari lantai rumah warga.

Pada banyak kota, pola serupa kian terlihat. Penggalangan dana daring menjadi pintu masuk, bukan garis akhir. Dari layar ke lapangan, dari notifikasi ke aksi. Komunitas-komunitas kecil bermunculan, mengatur jadwal kunjungan, membagi tugas, memastikan bantuan sampai tanpa sekadar menjadi angka di laporan.

Ada sesuatu yang berubah dalam cara publik memaknai kepedulian. Mungkin karena terlalu sering menyaksikan penderitaan lewat layar, orang-orang mulai merasa perlu memastikan bahwa empati mereka benar-benar tiba di tujuan. Bahwa di balik nominal transfer, ada wajah yang tersenyum lega. Bahwa di balik unggahan yang dibagikan ribuan kali, ada perubahan yang bisa disentuh.

Solidaritas hari ini tidak lagi sepenuhnya sunyi dan personal. Ia menjadi pengalaman kolektif. Seseorang mengunggah ajakan, yang lain menanggapi, lalu sekelompok orang bergerak bersama. Dunia digital dan dunia nyata tak lagi berdiri terpisah; keduanya saling menguatkan.

Tentu, tidak semua gerakan bertahan lama. Ada yang redup setelah sorotan kamera padam. Ada pula yang tersendat oleh persoalan kepercayaan. Namun di antara itu semua, tumbuh kesadaran bahwa kepedulian tidak bisa selamanya bersandar pada simbol.

Klik hanyalah awal. Selebihnya adalah langkah kaki yang memilih berjalan, tangan yang memilih membantu, dan waktu yang rela dibagi. Solidaritas menemukan bentuknya yang paling utuh. Bukan sekadar terlihat, tetapi benar-benar terasa.

DITULIS OLEH

Wilfi Wulandari

Seorang penulis

Tulisan populer

Lihat semua
Wilfi Wulandari
·

Makna Ramadan Sebagai Momentum Ibadah dan Aksi Kemanusiaan

Makna Ramadan Sebagai Momentum Ibadah dan Aksi Kemanusiaan
Wilfi Wulandari
·

Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata

Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata
Eko Budiawan
·

Alexithymia dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental serta Relasi Sosial

Alexithymia dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental serta Relasi Sosial
Eko Budiawan
·

Mangut Ikan Pari: Identitas dan Kearifan Pesisir

Mangut Ikan Pari: Identitas dan Kearifan Pesisir

Artikel Pilihan untuk Anda

Terhubung Secara Global, Terasing Secara Sosial

Eko Budiawan

·1 menit baca

Saat Dewasa, Pertemanan Jadi Lebih Sunyi Tapi Lebih Tulus

Huraira Asisi

·1 menit baca

Mangut Ikan Pari: Identitas dan Kearifan Pesisir

Eko Budiawan

·1 menit baca

Zawo-Zawo sebagai Cermin Kearifan Lokal

Eko Budiawan

·1 menit baca