Di tengah derasnya arus globalisasi digital, masyarakat dunia kini hidup dalam paradoks. Teknologi memungkinkan seseorang di Indonesia berbicara langsung dengan kolega di Eropa, mengikuti tren dari South Korea, hingga menyaksikan peristiwa di United States secara real-time. Namun di saat yang sama, kedekatan sosial di lingkungan sekitar justru terasa semakin renggang.
Fenomena ini kian terlihat di ruang-ruang publik. Di kafe, halte, bahkan ruang keluarga, banyak orang duduk berdampingan tanpa benar-benar berinteraksi. Gawai menjadi jembatan global sekaligus tembok sosial. Platform seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp menghadirkan konektivitas tanpa batas, tetapi tidak selalu menghadirkan kedekatan emosional.

Secara statistik, jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Akses informasi menjadi lebih mudah dan murah. Namun para pengamat sosial menilai bahwa intensitas komunikasi tidak selalu sebanding dengan kualitas hubungan. Percakapan daring sering kali bersifat singkat, cepat, dan dangkal. Emoji menggantikan ekspresi wajah, dan notifikasi menggantikan sapaan langsung.
Di kalangan generasi muda, pertemanan kini banyak terbangun di ruang digital. Mereka dapat memiliki ratusan hingga ribuan “teman” atau “pengikut”, tetapi tetap merasa kesepian. Istilah fear of missing out (FOMO) dan kecemasan sosial menjadi semakin umum terdengar. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial juga memperbesar jarak antara realitas dan citra diri.
Kondisi ini memengaruhi pola interaksi keluarga dan masyarakat. Waktu berkumpul sering terpecah oleh layar masing-masing. Diskusi tatap muka berkurang, digantikan pesan singkat. Dalam jangka panjang, situasi ini berpotensi melemahkan empati dan keterampilan komunikasi interpersonal.
Meski demikian, tidak sedikit pula yang memanfaatkan teknologi untuk memperkuat solidaritas. Komunitas daring mampu menggalang bantuan sosial dengan cepat, menyuarakan isu-isu kemanusiaan, dan membangun jejaring profesional lintas negara. Artinya, teknologi bukanlah musuh, melainkan alat yang hasilnya bergantung pada cara manusia menggunakannya.
Para sosiolog menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukanlah kurangnya koneksi, melainkan kurangnya kedalaman hubungan. Literasi digital, pengendalian waktu layar, serta kesadaran akan pentingnya interaksi langsung menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan.
Globalisasi telah membuat dunia terasa sempit. Namun agar tidak terasing secara sosial, masyarakat perlu kembali memaknai arti kehadiran—bukan hanya hadir secara daring, tetapi juga secara nyata.
Di era ketika jarak geografis hampir tak berarti, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa dekat kita dengan orang-orang yang benar-benar ada di sekitar kita?





