Ringkas Kata

Tradisi Bajapuik Pariaman: Warisan Budaya Minangkabau yang Sarat Makna

Tradisi Bajapuik dari Pariaman, Sumatera Barat, merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang masih dikenal hingga kini.

Wilfi Wulandari

2 menit baca
Tradisi Bajapuik Pariaman: Warisan Budaya Minangkabau yang Sarat Makna

Warisan Budaya Minangkabau

Tradisi Bajapuik dari Pariaman, Sumatera Barat, merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang masih dikenal hingga kini. Tradisi ini sering menarik perhatian karena berbeda dari kebiasaan umum dalam pernikahan di banyak daerah lain. Jika di sebagian tempat pihak laki-laki memberikan mahar atau biaya tertentu, dalam tradisi Bajapuik justru pihak perempuan yang memberikan “uang japuik” kepada calon mempelai pria. Namun, di balik praktik tersebut tersimpan nilai budaya, penghormatan, dan filosofi sosial yang mendalam.

Secara bahasa, “bajapuik” berasal dari kata “japuik” yang berarti menjemput. Dalam konteks adat Pariaman, tradisi ini merujuk pada proses pihak keluarga perempuan menjemput mempelai laki-laki untuk dibawa ke rumah keluarga perempuan setelah akad atau prosesi pernikahan. Uang japuik yang diberikan bukanlah bentuk “membeli laki-laki”, melainkan simbol penghormatan kepada calon suami yang akan menjadi bagian dari keluarga besar pihak perempuan.

Tradisi ini erat kaitannya dengan sistem kekerabatan Minangkabau yang menganut garis keturunan ibu atau matrilineal. Dalam sistem ini, perempuan memiliki posisi penting dalam pewarisan harta pusaka dan keberlanjutan suku. Karena itu, kehadiran laki-laki sebagai suami dipandang sebagai sosok yang dihormati dan diterima secara resmi ke dalam lingkungan keluarga perempuan. Nilai penghargaan inilah yang menjadi salah satu dasar munculnya tradisi Bajapuik.

Besaran uang japuik biasanya disesuaikan dengan kesepakatan kedua keluarga. Dahulu, jumlahnya sering mempertimbangkan latar belakang pendidikan, pekerjaan, atau status sosial calon mempelai pria. Namun, di masa modern, banyak keluarga yang lebih menekankan musyawarah, kemampuan ekonomi, serta makna simbolis dibanding nilai nominal. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.

Meski demikian, tradisi Bajapuik juga menghadapi tantangan. Sebagian masyarakat menilai praktik ini bisa memberatkan pihak perempuan jika dipahami hanya dari sisi materi. Karena itu, banyak tokoh adat dan masyarakat menegaskan pentingnya memahami substansi budaya di baliknya, yaitu penghormatan, tanggung jawab, dan penyatuan dua keluarga, bukan sekadar persoalan uang.

Di era modern, generasi muda Pariaman mulai memaknai Bajapuik secara lebih fleksibel. Ada yang tetap menjalankan tradisi secara lengkap, ada pula yang menyesuaikannya dengan kondisi ekonomi dan kesepakatan bersama. Sikap ini menjadi bukti bahwa budaya bukan sesuatu yang kaku, melainkan dapat hidup dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakatnya.

Tradisi Bajapuik Pariaman adalah contoh bagaimana adat istiadat Indonesia menyimpan filosofi sosial yang unik dan berharga. Dengan pemahaman yang benar, tradisi ini bukan sekadar seremoni pernikahan, tetapi cerminan nilai penghormatan, kekeluargaan, dan identitas budaya Minangkabau yang patut dijaga. Melestarikan tradisi seperti Bajapuik berarti ikut menjaga keberagaman budaya Nusantara untuk generasi mendatang.

DITULIS OLEH

Wilfi Wulandari

Seorang penulis

Tulisan populer

Lihat semua
Listiananda Apriliawan
·

Ogoh Ogoh Bali sebagai Warisan Budaya dan Simbol Filosofi Hindu Dharma

Ogoh Ogoh Bali sebagai Warisan Budaya dan Simbol Filosofi Hindu Dharma
Wilfi Wulandari
·

Tradisi Bajapuik Pariaman: Warisan Budaya Minangkabau yang Sarat Makna

Tradisi Bajapuik Pariaman: Warisan Budaya Minangkabau yang Sarat Makna
Eko Budiawan
·

Tabuik Pariaman: Tradisi, Makna, dan Daya Tarik Budaya Pesisir Sumatera Barat

Tabuik Pariaman: Tradisi, Makna, dan Daya Tarik Budaya Pesisir Sumatera Barat
Eko Budiawan
·

Keris Jawa: Fakta dan Mitosnya

Keris Jawa: Fakta dan Mitosnya

Artikel Pilihan untuk Anda

Artikel Lain dari Penulis Ini