Industri makanan kucing tumbuh diam-diam, tetapi nilainya tidak kecil. Rak toko hewan dipenuhi merek dengan klaim tinggi protein, premium nutrition, hingga formula khusus kesehatan. Di balik kemasan yang menggemaskan, ada perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah setiap tahun.
Lonjakan ini bukan kebetulan. Kucing kini diposisikan sebagai anggota keluarga. Perubahan status itu mengubah pola belanja. Pemilik rela membayar lebih untuk produk yang diyakini lebih sehat. Namun di tengah euforia pasar, satu pertanyaan jarang diajukan secara serius. Siapa yang memastikan kualitas produk tersebut benar-benar sesuai dengan klaimnya?
Secara regulasi, pakan hewan berada di bawah pengawasan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Produk wajib terdaftar dan memenuhi standar tertentu sebelum beredar. Komposisi dan kadar nutrisi harus dicantumkan. Nomor registrasi harus jelas.
Gambar : https://share.google/z4gZPevsqfItc43eq
Masalahnya, kepatuhan administratif tidak selalu identik dengan pengawasan yang efektif. Produk curah tanpa label masih beredar. Pakan yang dikemas ulang dijual dengan harga lebih rendah. Konsumen jarang menuntut transparansi karena fokus utama tetap pada harga dan merek.
Label menjadi medan abu-abu berikutnya. Banyak pemilik kucing membaca bagian depan kemasan, tetapi melewatkan daftar komposisi. Padahal urutan bahan menunjukkan proporsi terbesar. Jika bahan pengisi muncul di posisi awal, klaim protein tinggi patut dipertanyakan. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh strategi pemasaran.
Industri ini juga makin kompleks dengan masuknya produk impor. Distribusi melalui platform daring mempercepat peredaran barang. Pengawasan lintas jalur menjadi tantangan tersendiri. Tanpa kontrol ketat, konsumen sulit membedakan produk resmi dengan yang masuk tanpa proses verifikasi memadai.
Di sisi lain, dampaknya nyata. Dokter hewan mencatat kasus gangguan pencernaan, masalah kulit, hingga penyakit saluran kemih yang berkaitan dengan pola makan. Ketika kualitas pakan rendah, konsekuensinya tidak langsung terlihat. Namun dalam jangka panjang, biaya kesehatan hewan bisa melampaui harga produk yang lebih murah.
Pertumbuhan pasar memang menguntungkan pelaku industri. Tetapi pertumbuhan tanpa literasi konsumen dan pengawasan konsisten berisiko menciptakan masalah sistemik. Kontrol kualitas tidak boleh berhenti pada nomor registrasi di kemasan. Ia harus hadir dalam proses produksi, distribusi, hingga edukasi publik.
Mangkuk kecil itu mungkin terlihat sepele. Namun di dalamnya bertemu kepentingan bisnis, regulasi, dan tanggung jawab moral. Pertanyaannya bukan lagi apakah pasar ini besar. Pertanyaannya, apakah mekanisme kontrolnya cukup kuat untuk menjaga kesehatan hewan yang kini dianggap keluarga.




