Di tengah derasnya arus digital, kehidupan masyarakat bergerak semakin cepat. Layar gawai menjadi pusat informasi, hiburan, sekaligus ruang interaksi. Dalam ruang itu, algoritma bekerja tanpa terlihat—menyaring, memilih, dan menampilkan apa yang dianggap paling menarik. Popularitas diukur lewat angka: jumlah tayangan, suka, dan komentar. Perlahan, ukuran-ukuran inilah yang membentuk selera publik.
Di sisi lain, adat dan budaya daerah tumbuh dalam ritme yang berbeda. Ia lahir dari kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, dari nilai yang ditanamkan dalam keluarga, dari upacara dan kesenian yang sarat makna. Tradisi tidak dibangun untuk menjadi viral. Ia hidup dalam kebersamaan, dalam ruang fisik, dan dalam proses yang tidak instan.
Ketika perhatian masyarakat lebih banyak tersedot pada konten digital yang cepat dan sensasional, budaya lokal kerap terpinggirkan. Bahasa daerah mulai jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Generasi muda lebih akrab dengan tren global dibanding sejarah kampung halamannya sendiri. Perayaan adat yang dahulu menjadi pusat kebersamaan kini sering kalah gaung dibanding acara modern yang dipromosikan secara masif di media sosial.
Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari cara kerja algoritma. Sistem tersebut memprioritaskan konten yang paling banyak diminati dan direspons. Semakin tinggi interaksi, semakin luas jangkauannya. Tradisi yang tidak dikemas secara menarik di ruang digital berisiko tenggelam di antara banjir informasi global. Dalam situasi ini, adat seperti berjalan pelan di tengah jalan raya yang dipenuhi kendaraan berkecepatan tinggi.
Namun kemajuan teknologi bukanlah musuh budaya. Algoritma pada dasarnya netral; ia mengikuti pola perilaku penggunanya. Tantangan yang muncul justru terletak pada kurangnya upaya menghadirkan budaya daerah secara relevan di ruang digital. Ketika cerita rakyat, kesenian tradisional, dan nilai lokal dikemas dengan kreatif serta mudah diakses, peluang untuk menjangkau generasi muda terbuka lebih lebar.
Yang dipertaruhkan bukan sekadar kelestarian simbol atau seremoni, melainkan identitas kolektif. Budaya daerah membentuk cara pandang, etika, dan rasa kebersamaan dalam masyarakat. Jika tradisi semakin tergerus, yang hilang bukan hanya pertunjukan atau bahasa, tetapi juga akar yang mengikat komunitas.
Algoritma mungkin menentukan apa yang muncul di layar, tetapi pilihan untuk menjaga adat tetap berada di tangan manusia. Kemajuan digital tidak bisa dihentikan, namun keseimbangan dapat diupayakan. Tradisi perlu beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Dengan kesadaran dan komitmen bersama, adat tidak akan kalah—ia justru dapat menemukan ruang baru untuk bertahan dan berkembang di era teknologi.




