Ringkas Kata

Coelacanth: Ikan Purba yang Bertahan dari Zaman Prasejarah

Penemuan ulang coelacanth pada 1938 di pesisir Afrika Selatan menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah biologi modern.

Eko Budiawan

2 menit baca
Coelacanth: Ikan Purba yang Bertahan dari Zaman Prasejarah

Foto oleh Panchanok Juntanarach (unsplash.com/@mindddd)

Di kedalaman samudra yang gelap dan bertekanan tinggi, seekor ikan langka masih berenang membawa jejak masa ratusan juta tahun silam. Dialah Coelacanth, spesies yang lama diyakini telah punah sejak era dinosaurus, sebelum akhirnya kemunculannya kembali mengguncang dunia ilmiah pada abad ke-20.

Penemuan ulang coelacanth pada 1938 di pesisir Afrika Selatan menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam sejarah biologi modern. Spesies tersebut kemudian dikenal sebagai Latimeria chalumnae. Beberapa dekade berselang, dunia sains kembali dibuat takjub ketika spesies kedua, Latimeria menadoensis, ditemukan di perairan Sulawesi Utara, Indonesia—membuktikan bahwa perairan Nusantara menyimpan warisan evolusi yang luar biasa.

Berbeda dari kebanyakan ikan modern, coelacanth menghuni kedalaman antara 150 hingga 700 meter. Di zona minim cahaya tersebut, ia menghabiskan siang hari bersembunyi di celah atau gua bawah laut, lalu keluar pada malam hari untuk mencari mangsa seperti ikan kecil dan cumi-cumi.

Ciri paling mencolok dari coelacanth adalah siripnya yang berdaging dan bertulang kuat. Struktur ini menjadi perhatian ilmuwan karena dinilai memiliki kemiripan dengan bentuk awal anggota gerak vertebrata darat. Dengan kata lain, coelacanth membantu membuka pemahaman tentang bagaimana makhluk hidup pertama kali “melangkah” dari laut menuju daratan jutaan tahun lalu.

Dalam catatan fosil, garis keturunan coelacanth telah ada sejak lebih dari 400 juta tahun lalu. Selama itu pula, perubahan morfologinya relatif kecil dibandingkan banyak spesies lain. Stabilitas inilah yang membuatnya sering dijuluki “fosil hidup”, meski secara biologis ia tetap merupakan organisme yang berevolusi dan beradaptasi.

Namun, kelangkaannya menjadi tantangan tersendiri. Populasi coelacanth diperkirakan sangat terbatas dan rentan terhadap gangguan lingkungan, termasuk penangkapan tidak sengaja oleh nelayan laut dalam serta perubahan ekosistem.

DITULIS OLEH

Eko Budiawan

Pembelajar dan sarjana jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang. Berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas serta etika komunikasi demi menyuarakan kejelasan di tengah masyarakat.

Tulisan populer

Lihat semua
Eko Budiawan
·

Benteng Kuto Besak: Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang di Tepian Sungai Musi

Benteng Kuto Besak: Jejak Kejayaan Kesultanan Palembang di Tepian Sungai Musi
Eko Budiawan
·

Jika Tak Ada Lagi Anjing: Dampak Besar bagi Kehidupan Manusia dan Lingkungan

Jika Tak Ada Lagi Anjing: Dampak Besar bagi Kehidupan Manusia dan Lingkungan
Eko Budiawan
·

Pentingnya Bersosialisasi di Zaman Serba Online

Pentingnya Bersosialisasi di Zaman Serba Online
Eko Budiawan
·

Rumah Bolon, Simbol Kehormatan dan Persatuan Masyarakat Batak

Rumah Bolon, Simbol Kehormatan dan Persatuan Masyarakat Batak