Kilau warna dan corak menyerupai mata pada ekor burung merak menjadikannya salah satu unggas paling ikonik di dunia. Namun, di balik pesonanya, merak menyimpan kisah panjang tentang evolusi, fungsi ekologis, dan tantangan konservasi di era modern.
Merak merupakan bagian dari keluarga Phasianidae dan terbagi dalam beberapa spesies utama. Yang paling dikenal adalah Merak India, spesies yang banyak dipelihara dan tersebar luas di berbagai negara. Asia Tenggara menjadi rumah bagi Merak Hijau, termasuk di sejumlah kawasan Indonesia. Sementara itu, Afrika Tengah memiliki spesies unik bernama Merak Kongo.
Ekor panjang yang sering dikira sebagai “bulu ekor” sebenarnya adalah bulu penutup ekor yang memanjang, dikenal sebagai train. Struktur ini dimiliki oleh merak jantan dan digunakan saat musim kawin untuk menarik perhatian betina. Gerakan mengembangkan bulu disertai getaran halus menciptakan efek visual sekaligus suara yang memikat.
Sebaliknya, merak betina memiliki warna lebih redup. Warna tersebut bukan tanpa alasan—kamuflase membantu melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Perbedaan mencolok antara jantan dan betina ini disebut dimorfisme seksual, fenomena umum dalam dunia satwa.
Di habitat alaminya, merak berperan sebagai pemakan serangga, biji-bijian, buah, hingga hewan kecil. Pola makan omnivora ini membantu mengendalikan populasi hama serta menyebarkan biji tanaman, sehingga berkontribusi terhadap regenerasi hutan.
Sayangnya, tekanan terhadap populasi liar terus meningkat. Khususnya Merak Hijau, yang kini menghadapi ancaman serius akibat perusakan habitat dan aktivitas perburuan. Upaya perlindungan kawasan konservasi dan penegakan hukum menjadi langkah penting untuk memastikan spesies ini tidak semakin terdesak.
Sejak dahulu, merak dipandang sebagai lambang kemegahan dan keanggunan dalam berbagai budaya. Motif bulunya menghiasi karya seni, arsitektur, hingga busana tradisional. Namun, simbol keindahan tersebut kini berhadapan dengan realitas kerentanan di alam liar.
Pelestarian merak bukan sekadar menjaga satu spesies tetap hidup, melainkan mempertahankan keseimbangan ekosistem yang lebih luas. Keindahan mereka di alam bebas menjadi pengingat bahwa harmoni antara manusia dan lingkungan adalah kunci keberlanjutan.





