Rumah Limas bukan sekadar bangunan tradisional khas Palembang, tetapi simbol martabat dan tata nilai masyarakatnya. Setiap detailnya—dari atap berbentuk limas hingga lantai bertingkat—mengandung filosofi tentang penghormatan, etika, dan struktur sosial. Di dalamnya, arsitektur tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai “guru” yang mengajarkan tata krama.
Lantai yang bertingkat, misalnya, mencerminkan bagaimana masyarakat Palembang menjunjung tinggi sopan santun dan penghormatan terhadap tamu serta orang yang dituakan. Nilai ini terasa semakin relevan di era modern, ketika batas antara formal dan informal sering kali kabur. Rumah Limas mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak seharusnya menghapus adab.
Namun, di sisi lain, saya melihat keberadaan Rumah Limas semakin terdesak oleh pembangunan modern. Banyak generasi muda mengenalnya hanya sebagai objek wisata atau latar foto, bukan sebagai warisan hidup yang perlu dipahami maknanya. Jika pelestarian hanya berhenti pada bentuk fisik tanpa memahami filosofi di baliknya, maka kita kehilangan ruh budayanya.
Karena itu, menurut saya, menjaga Rumah Limas bukan hanya soal mempertahankan bangunan kayu tua, tetapi menjaga nilai kebersamaan, penghormatan, dan identitas wong Palembang. Modernisasi boleh berjalan, tetapi akar budaya tetap harus ditanam kuat agar tidak tercerabut oleh zaman.







