Ringkas Kata

Penderita Alexithymia Sulit Ungkapkan Perasaan pada Orang Lain: Ini Tanda-tandanya

Ada kondisi psikologis yang membuat seseorang kesulitan mengenali sekaligus mengekspresikan emosi mereka Sendiri.

Eko Budiawan

3 menit baca
Penderita Alexithymia Sulit Ungkapkan Perasaan pada Orang Lain: Ini Tanda-tandanya

Foto oleh Stu Lauren (unsplash.com/@itslauren1s)

Di tengah tuntutan sosial yang semakin kompleks, kemampuan mengungkapkan perasaan sering dianggap sebagai bagian penting dari kesehatan mental. Namun, tidak semua orang memiliki kemudahan itu. Ada kondisi psikologis yang membuat seseorang kesulitan mengenali sekaligus mengekspresikan emosi mereka sendiri, dikenal sebagai Alexithymia.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Peter Sifneos pada tahun 1970-an. Secara harfiah, “alexithymia” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tidak memiliki kata untuk emosi”. Meski bukan gangguan mental yang berdiri sendiri dalam klasifikasi diagnosis seperti Depression atau Anxiety Disorder, kondisi ini sering berkaitan erat dengan berbagai masalah psikologis lainnya.

Memahami Apa Itu Alexithymia

Alexithymia bukan sekadar “tidak pandai berbicara tentang perasaan”. Lebih dari itu, kondisi ini mencakup kesulitan mendasar dalam mengidentifikasi emosi, membedakan antara perasaan dan sensasi fisik, serta keterbatasan dalam berimajinasi atau berpikir simbolik.

Seseorang dengan alexithymia mungkin tampak “datar” secara emosional. Namun, ini bukan berarti mereka tidak memiliki emosi melainkan mereka kesulitan memproses dan mengkomunikasikannya.

Tanda-tanda yang Perlu Diperhatikan

Beberapa ciri umum penderita alexithymia dapat dikenali dalam kehidupan sehari-hari:

1. Sulit Mengidentifikasi Perasaan Sendiri

Mereka sering tidak tahu apakah sedang sedih, marah, atau cemas. Yang dirasakan hanya ketidaknyamanan tanpa label emosi yang jelas.

2. Kesulitan Mengungkapkan Emosi kepada Orang Lain

Ketika ditanya “kamu kenapa?”, jawabannya sering berupa “nggak apa-apa” atau penjelasan yang sangat umum.

3. Fokus pada Hal-hal Konkret

Alih-alih membahas perasaan, mereka cenderung berbicara tentang fakta, rutinitas, atau hal teknis.

4. Minim Empati Emosional

Bukan karena tidak peduli, tetapi mereka kesulitan memahami atau merespons emosi orang lain secara emosional.

5. Sensasi Fisik yang Membingungkan

Emosi sering muncul sebagai gejala fisik seperti dada sesak, sakit kepala, atau kelelahan tanpa disadari sebagai respons emosional.

Faktor Penyebab

Penelitian dalam bidang Psychology menunjukkan bahwa alexithymia bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  1. Pola asuh yang kurang memberi ruang ekspresi emosi

  2. Trauma masa kecil

  3. Kondisi neurologis tertentu

  4. Keterkaitan dengan gangguan seperti Autism Spectrum Disorder

Namun, penting untuk dipahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda. Tidak ada satu penyebab tunggal yang berlaku untuk semua kasus.

Dampak dalam Kehidupan Sehari-hari

Kesulitan memahami emosi dapat berdampak pada hubungan interpersonal, pekerjaan, hingga kesehatan mental secara keseluruhan. Komunikasi menjadi tidak efektif, konflik sulit diselesaikan, dan tekanan emosional bisa menumpuk tanpa disadari.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan seperti stres kronis, kecemasan, atau depresi.

Apakah Bisa Diatasi?

Kabar baiknya, alexithymia bukan kondisi yang “tidak bisa berubah”. Dengan pendekatan yang tepat, seseorang dapat belajar mengenali dan mengekspresikan emosi secara bertahap.

Beberapa metode yang sering digunakan meliputi:

  • Terapi psikologis seperti terapi kognitif-perilaku

  • Latihan kesadaran diri (self-awareness)

  • Journaling atau menulis perasaan secara rutin

  • Pendekatan berbasis mindfulness

  • Peran profesional seperti psikolog atau psikiater sangat penting dalam membantu proses ini.

Kesimpulan

Alexithymia mengingatkan kita bahwa kemampuan memahami emosi bukanlah hal yang otomatis dimiliki semua orang. Di balik sikap yang tampak dingin atau tertutup, bisa jadi ada kesulitan yang tidak terlihat.

Meningkatkan kesadaran tentang kondisi ini bukan hanya membantu mereka yang mengalaminya, tetapi juga membangun empati dalam masyarakat. Karena pada akhirnya, memahami perasaan baik milik sendiri maupun orang lain adalah bagian penting dari menjadi manusia.

DITULIS OLEH

Eko Budiawan

Pembelajar dan sarjana jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang. Berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas serta etika komunikasi demi menyuarakan kejelasan di tengah masyarakat.

Tulisan populer

Lihat semua
Eko Budiawan
·

Penderita Alexithymia Sulit Ungkapkan Perasaan pada Orang Lain: Ini Tanda-tandanya

Penderita Alexithymia Sulit Ungkapkan Perasaan pada Orang Lain: Ini Tanda-tandanya
Listiananda Apriliawan
·

Ayam Tangkap Khas Aceh Identitas Kuliner dan Warisan Budaya Tanah Rencong

Ayam Tangkap Khas Aceh Identitas Kuliner dan Warisan Budaya Tanah Rencong
Eko Budiawan
·

STOP Normalisasi Memberi Tanpa Tujuan Jelas

STOP Normalisasi Memberi Tanpa Tujuan Jelas
Eko Budiawan
·

Nila Ungkep Khas Lampung Timur

Nila Ungkep Khas Lampung Timur

Artikel Lain dari Penulis Ini

STOP Normalisasi Memberi Tanpa Tujuan Jelas

STOP Normalisasi Memberi Tanpa Tujuan Jelas

Eko Budiawan

·1 menit baca

Nila Ungkep Khas Lampung Timur

Nila Ungkep Khas Lampung Timur

Eko Budiawan

·1 menit baca

Ketika Tradisi Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Ketika Tradisi Bertahan di Tengah Arus Modernisasi

Eko Budiawan

·1 menit baca

Sungai Lilin dan Masa Depan Sawit

Sungai Lilin dan Masa Depan Sawit

Eko Budiawan

·1 menit baca