Ringkas Kata

Nasib Guru di Era Layar Sentuh

Internet menyediakan pengetahuan, tetapi tidak selalu menyediakan konteks.

Eko Budiawan

3 menit baca
Nasib Guru di Era Layar Sentuh

Foto oleh Tra Nguyen (unsplash.com/@thutra0803)

Dulu, guru adalah pintu utama menuju pengetahuan. Buku terbatas, perpustakaan tidak selalu lengkap, dan internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Siswa bergantung pada guru untuk memahami dunia. Apa yang disampaikan di kelas menjadi rujukan utama untuk belajar.

Namun di era layar sentuh, pola itu berubah. Pengetahuan kini tersebar luas di internet. Mesin pencari, video pembelajaran, hingga platform pendidikan daring membuat informasi tersedia dalam hitungan detik. Seorang siswa dapat menemukan penjelasan tentang konsep fisika atau sejarah dunia hanya dengan beberapa ketukan di layar.

Perubahan ini menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana: jika informasi sudah tersedia di mana-mana, apa sebenarnya peran guru hari ini?

Banyak pengamat pendidikan menilai bahwa guru tidak lagi sekadar penyampai materi. Peran itu perlahan bergeser menjadi pembimbing yang membantu siswa memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara kritis. Di tengah banjir data digital, kemampuan memilah kebenaran justru menjadi semakin penting.

Internet menyediakan pengetahuan, tetapi tidak selalu menyediakan konteks. Informasi dapat muncul tanpa penjelasan yang utuh, bahkan tidak jarang bercampur dengan kekeliruan. Di sinilah kehadiran guru tetap relevan. Guru membantu siswa memahami mana yang dapat dipercaya dan mana yang perlu dipertanyakan.

Tantangan lain muncul dari cara belajar generasi yang tumbuh bersama teknologi. Banyak siswa terbiasa dengan informasi yang cepat, ringkas, dan visual. Video pendek sering terasa lebih menarik dibandingkan penjelasan panjang di papan tulis. Hal ini menuntut guru untuk menyesuaikan pendekatan mengajar tanpa kehilangan kedalaman materi.

Namun perubahan ini juga membawa tekanan baru bagi profesi guru. Tidak semua tenaga pendidik mendapatkan pelatihan teknologi yang memadai. Sebagian harus beradaptasi secara mandiri dengan berbagai platform digital, aplikasi pembelajaran, hingga sistem administrasi daring yang terus berubah.

Di beberapa sekolah, guru bahkan menghadapi paradoks. Teknologi diharapkan meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi fasilitas yang tersedia belum selalu sebanding dengan tuntutan tersebut. Akses internet tidak merata, perangkat terbatas, dan dukungan teknis sering kali minim.

Situasi ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya soal menghadirkan teknologi ke dalam kelas. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa guru memiliki dukungan yang cukup untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Di tengah berbagai tantangan itu, satu hal tetap tidak berubah: pendidikan adalah proses manusiawi. Teknologi dapat membantu menyampaikan materi, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan antara guru dan murid. Empati, bimbingan moral, dan inspirasi sering lahir dari interaksi langsung yang tidak bisa disalin oleh algoritma.

Karena itu, nasib guru di era layar sentuh sebenarnya tidak ditentukan oleh teknologi semata. Yang lebih menentukan adalah bagaimana sistem pendidikan menempatkan guru dalam perubahan ini. Apakah mereka akan dibiarkan berjuang sendiri di tengah arus digital, atau justru diberi ruang untuk berkembang sebagai pemandu belajar di zaman baru.

Pada akhirnya, layar sentuh mungkin mengubah cara siswa mengakses pengetahuan. Namun arah pendidikan tetap bergantung pada manusia yang berada di ruang kelas. Dan di sanalah peran guru masih menemukan maknanya.

DITULIS OLEH

Eko Budiawan

Pembelajar dan sarjana jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang. Berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas serta etika komunikasi demi menyuarakan kejelasan di tengah masyarakat.

Tulisan populer

Lihat semua
Eko Budiawan
·

Menimbang Dampak Uang Elektronik terhadap Sistem Pembayaran

Menimbang Dampak Uang Elektronik terhadap Sistem Pembayaran
Eko Budiawan
·

Nasib Guru di Era Layar Sentuh

Nasib Guru di Era Layar Sentuh
Eko Budiawan
·

Sekolah Bertahun-Tahun, Hidup Tetap Bingung: Di Mana Letak Gagalnya Pendidikan?

Sekolah Bertahun-Tahun, Hidup Tetap Bingung: Di Mana Letak Gagalnya Pendidikan?
Eko Budiawan
·

Karapan Sapi sebagai Warisan Tradisi dan Simbol Kebanggaan Madura

Karapan Sapi sebagai Warisan Tradisi dan Simbol Kebanggaan Madura