Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah melahirkan generasi yang tumbuh bersama layar sentuh. Sejak usia dini, anak-anak sudah terbiasa menggunakan ponsel pintar, tablet, dan berbagai aplikasi daring. Mereka fasih menjelajahi media sosial, mencari informasi dalam hitungan detik, hingga membangun jejaring pertemanan lintas negara. Kemampuan adaptasi yang cepat terhadap teknologi menjadikan generasi ini sering disebut sebagai generasi paling melek digital sepanjang sejarah.
Namun, di balik kecerdasan digital tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan: apakah kemajuan ini juga diiringi dengan ketahanan mental yang kuat?
Secara akademik dan profesional, generasi layar sentuh menunjukkan banyak keunggulan. Mereka terbiasa dengan sistem kerja fleksibel, mampu memanfaatkan teknologi untuk berwirausaha, serta kreatif dalam menciptakan konten. Berbagai platform digital membuka peluang ekonomi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Informasi yang mudah diakses juga memperluas wawasan dan mempercepat proses belajar.
Akan tetapi, paparan teknologi yang intens juga membawa konsekuensi psikologis. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, budaya perbandingan diri, serta arus informasi yang tak pernah berhenti dapat memicu stres dan kecemasan. Notifikasi yang datang tanpa henti menciptakan kebutuhan untuk selalu terhubung, seolah-olah jeda berarti tertinggal.
Fenomena ini semakin nyata ketika isu kesehatan mental menjadi topik yang banyak diperbincangkan. Di satu sisi, keterbukaan generasi muda dalam membicarakan kesehatan mental patut diapresiasi. Mereka lebih berani mencari bantuan dan menyuarakan perasaan. Namun di sisi lain, tingginya paparan konten negatif, perundungan daring, hingga standar kesuksesan yang tidak realistis dapat memperparah tekanan psikologis.
Para pengamat pendidikan menilai bahwa tantangan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara penggunaannya. Literasi digital tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga mencakup pengendalian diri, etika berkomunikasi, serta manajemen emosi. Tanpa pendampingan dan pendidikan karakter yang memadai, kecerdasan digital bisa berjalan tanpa keseimbangan emosional.
Keluarga dan institusi pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk ketahanan mental generasi ini. Pola asuh yang komunikatif, pembatasan waktu layar yang sehat, serta pembiasaan aktivitas sosial di dunia nyata dapat menjadi penyeimbang. Selain itu, lingkungan yang mendukung tanpa menghakimi membantu anak muda merasa aman untuk berkembang.
Generasi layar sentuh bukanlah generasi yang lemah. Mereka justru tumbuh di tengah perubahan cepat dan ketidakpastian global. Tantangan ekonomi, krisis lingkungan, hingga persaingan kerja yang ketat membentuk mereka menjadi pribadi yang adaptif. Namun adaptif saja tidak cukup; ketahanan mental harus dibangun secara sadar.
Pertanyaan “cerdas digital, rapuh mental?” sejatinya bukan tudingan, melainkan refleksi bersama. Teknologi adalah alat, dan kualitas generasi ditentukan oleh bagaimana alat itu digunakan. Dengan keseimbangan antara kecakapan digital dan kekuatan emosional, generasi layar sentuh berpotensi menjadi generasi paling tangguh dalam menghadapi masa depan.





