Ringkas Kata

Dari Pontianak, Es Nona Menjadi Identitas Rasa Kalimantan Barat

Dari warung pinggir jalan hingga kedai yang sudah bertahun-tahun berdiri, Es Nona hadir sebagai teman setia di sela aktivitas.

Eko Budiawan

2 menit baca
Dari Pontianak, Es Nona Menjadi Identitas Rasa Kalimantan Barat

Foto es nona (sitimustiani.com)

Di tengah teriknya matahari Pontianak, segelas Es Nona kerap menjadi pilihan sederhana yang menyegarkan. Minuman ini bukan hanya pelepas dahaga, melainkan bagian dari keseharian warga kota khatulistiwa. Dari warung pinggir jalan hingga kedai yang sudah bertahun-tahun berdiri, Es Nona hadir sebagai teman setia di sela aktivitas.

Tampilannya yang berlapis-lapis memikat siapa pun yang melihatnya. Santan putih yang lembut berpadu dengan sirup berwarna cerah, potongan tapai, kacang merah, atau cincau yang terselip di antara serpihan es. Kombinasi itu menghadirkan rasa manis yang seimbang, tidak berlebihan, dan tetap ringan dinikmati di cuaca panas.

Es Nona
Foto es nona (sitimustiani.com)

Bagi masyarakat setempat, Es Nona lebih dari sekadar minuman. Ia tumbuh bersama ritme kota. Para pekerja kerap singgah untuk melepas penat, pelajar menjadikannya pilihan sepulang sekolah, dan keluarga menikmati kebersamaan dengan segelas minuman yang sama. Dalam momen-momen kecil itulah, Es Nona menemukan maknanya.

Sebagai bagian dari kekayaan kuliner Kalimantan Barat, Es Nona mencerminkan pertemuan budaya yang hidup di Pontianak. Sentuhan tradisi Melayu dan pengaruh Tionghoa berpadu dalam cita rasa yang khas, tanpa kehilangan kesederhanaannya. Perpaduan ini menjadikan Es Nona bukan hanya produk kuliner, tetapi juga cerminan identitas daerah.

Seiring waktu, minuman ini tetap bertahan di tengah gempuran tren minuman modern. Justru dalam kesahajaannya, Es Nona menemukan kekuatannya. Ia tidak perlu kemasan mewah atau promosi besar-besaran untuk dicintai.

Dari Pontianak, Es Nona menjelma menjadi identitas rasa Kalimantan Barat, sebuah simbol kesegaran yang lahir dari tradisi, tumbuh dalam kebersamaan, dan terus dikenang oleh siapa pun yang pernah mencicipinya.

DITULIS OLEH

Eko Budiawan

Pembelajar dan sarjana jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang. Berkomitmen untuk menjunjung tinggi integritas serta etika komunikasi demi menyuarakan kejelasan di tengah masyarakat.

Tulisan populer

Lihat semua
Eko Budiawan
·

Dari Sekutu ke Rival: Sejarah Hubungan Iran dan Israel

Dari Sekutu ke Rival: Sejarah Hubungan Iran dan Israel
Wilfi Wulandari
·

Makna Ramadan Sebagai Momentum Ibadah dan Aksi Kemanusiaan

Makna Ramadan Sebagai Momentum Ibadah dan Aksi Kemanusiaan
Wilfi Wulandari
·

Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata

Tak Lagi Sekadar “Klik”, Solidaritas Publik Kian Nyata
Eko Budiawan
·

Alexithymia dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental serta Relasi Sosial

Alexithymia dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental serta Relasi Sosial

Artikel Pilihan untuk Anda

Mangut Ikan Pari: Identitas dan Kearifan Pesisir

Eko Budiawan

·1 menit baca

Zawo-Zawo sebagai Cermin Kearifan Lokal

Eko Budiawan

·1 menit baca

Pindang Patin sebagai Identitas Kuliner Khas Sungai Musi

Listiananda Apriliawan

·1 menit baca